Indonesia sudah memasuki era ekonomi digital. Ini dilihat dari perkembangan industri dan perdagangan elektronik (e-commerce). Ekonomi digital dapat menjadi sebuah ancaman bagi perusahaan atau individu yang tak siap dengan perubahan. Namun, ini bisa menciptakan angin segar bagi siapa pun yang sanggup berbenah mengikuti arus zaman.

Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung, mengungkapkan, dari jumlah penduduk sebanyak 262 juta jiwa, penetrasi pengguna internet mencapai 132 juta orang. Pengguna media sosial mencapai 106 juta orang. Sebanyak 371,4 juta mobile subscription dan tercatat 92 juta pengguna ponsel aktif.

Gambar terkait

“Transaksi e-commerce pada tahun lalu mencapai US$ 5,6 miliar dengan jumlah pembeli online 24,74 juta orang di seluruh Indonesia,” ujar Untung saat menghadiri Peringatan Hari Oeang di kantornya,

Perkembangan internet dan ekonomi digital, ia mengakui, telah berdampak pada industri ritel dan transportasi konvensional di Tanah Air. Sebagai contoh, penutupan gerai Matahari Departement Store di Blok M dan Manggarai, lalu kemudian fokus pada Mataharimall.com, pengunjung Mangga Dua terus menurun, sampai dengan anjloknya pendapatan perusahaan taksi konvensional.

“Saya dulu senang ke Mangga Dua, tapi sekarang bingung, karena sepi banyak yang tutup. Itu artinya digital jadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Bahkan, pemain offline sudah pindah ke sana (online). Transportasi konvensional pun juga kewalahan menghadapi Go-Jek dan Uber,” dia menerangkan.

Sementara transaksi perusahaan e-commerce, yaitu Bukalapak, Blanja.com, Tokopedia, hingga jasa kurir JNE naik signifikan. Bahkan, nilainya mencapai triliunan rupiah. “Pasar e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai US$ 130 miliar pada 2020,” tutur Untung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *